Sisingaan, Kesenian Rakyat Khas Bandung yang Penuh Makna – Sisingaan adalah salah satu kesenian rakyat yang sangat khas dari Jawa Barat, khususnya berkembang di wilayah Subang, Bandung, dan sekitarnya. Kesenian ini berbentuk arak-arakan boneka singa besar yang digotong oleh beberapa orang, biasanya ditampilkan dalam acara-acara penting seperti khitanan, perayaan panen, hingga pesta rakyat. Meski tampak sederhana, Sisingaan menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang semangat kebersamaan, perjuangan, dan simbol perlawanan rakyat Sunda.
Sejarah Sisingaan diyakini bermula pada era kolonial Belanda. Pada masa itu, rakyat Subang dan sekitarnya merasa tertekan dengan kehadiran perusahaan perkebunan asing yang menguasai tanah dan hasil bumi. Boneka singa dalam kesenian ini melambangkan kekuatan asing, terutama Belanda dan Inggris, yang mendominasi ekonomi masyarakat lokal. Dengan mengarak dan “menunggangi” boneka singa, masyarakat menyimbolkan keberanian serta tekad untuk mengalahkan dominasi penjajah.
Selain sebagai simbol perlawanan, Sisingaan juga berkembang menjadi kesenian rakyat yang sarat hiburan. Arak-arakan ini biasanya diiringi musik tradisional seperti kendang, gong, terompet, dan ketuk. Suasana meriah tercipta ketika para penggotong melakukan atraksi akrobatik, seperti mengangkat dan menggoyang-goyangkan boneka singa yang dinaiki anak-anak. Dalam khitanan misalnya, anak yang dikhitan akan dinaikkan ke atas boneka singa, seakan-akan ia menjadi pahlawan kecil yang berani menghadapi tantangan hidup.
Kesenian Sisingaan kemudian menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat, termasuk Bandung. Kota Bandung yang dikenal sebagai pusat budaya Sunda turut melestarikan kesenian ini, sehingga Sisingaan kini bukan hanya milik Subang, melainkan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Jawa Barat secara keseluruhan.
Filosofi dan Makna Simbolik dalam Sisingaan
Sisingaan bukan sekadar pertunjukan rakyat untuk hiburan. Di balik penampilan meriahnya, terdapat makna filosofis yang mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sunda.
Pertama, singa sebagai ikon utama dalam pertunjukan melambangkan kekuatan, keberanian, dan wibawa. Dalam konteks sejarah, boneka singa diartikan sebagai simbol penjajah yang kuat namun bisa “ditunggangi” oleh rakyat. Dengan demikian, Sisingaan menyampaikan pesan bahwa rakyat kecil pun mampu mengalahkan kekuatan besar jika bersatu.
Kedua, anak yang duduk di atas boneka singa melambangkan generasi penerus yang harus berani menghadapi kehidupan. Saat khitanan, anak yang diarak dengan Sisingaan diharapkan menjadi sosok yang tangguh dan siap dewasa. Tradisi ini memberikan semangat moral, bukan hanya bagi anak yang bersangkutan, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ikut merayakan.
Ketiga, para penggotong boneka singa mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Dibutuhkan empat hingga delapan orang untuk memikul boneka singa dengan kokoh. Mereka harus kompak dan seirama agar boneka tidak goyah. Hal ini menjadi simbol bahwa masyarakat harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan, karena kekuatan terbesar terletak pada persatuan.
Keempat, iringan musik tradisional yang mengiringi arak-arakan melambangkan kegembiraan, semangat, dan kebanggaan atas budaya lokal. Musik dengan tabuhan kendang, gong, dan terompet memberi nuansa khas Sunda yang menambah identitas kuat pada kesenian ini.
Makna-makna inilah yang membuat Sisingaan tetap relevan hingga sekarang. Lebih dari sekadar tontonan, ia adalah warisan budaya yang mengajarkan nilai-nilai perjuangan, kebersamaan, dan keberanian kepada generasi muda.
Perkembangan Sisingaan di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, Sisingaan tidak hanya menjadi bagian dari upacara adat atau khitanan. Kini, kesenian ini juga tampil di berbagai festival budaya, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Pemerintah Jawa Barat sering menjadikan Sisingaan sebagai atraksi unggulan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada wisatawan.
Di Bandung misalnya, pertunjukan Sisingaan kerap ditampilkan dalam acara Festival Budaya Sunda, pawai perayaan hari besar, atau kegiatan pariwisata. Kehadirannya selalu menarik perhatian, karena selain unik, juga penuh warna dan energi. Boneka singa yang digunakan pun kini semakin bervariasi, dihias dengan ornamen-ornamen indah, bahkan ada yang dibuat lebih modern dengan bahan ringan agar lebih mudah digotong.
Generasi muda juga banyak yang terlibat dalam pelestarian Sisingaan. Berbagai sanggar seni di Bandung dan Subang melatih anak-anak dan remaja untuk mengenal, memainkan musik pengiring, serta menjadi penggotong boneka singa. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Selain itu, Sisingaan kini juga menjadi simbol identitas daerah Subang dan Jawa Barat secara luas. UNESCO pernah mendaftarkan angklung sebagai warisan budaya dunia, dan ada harapan bahwa suatu saat Sisingaan juga mendapat pengakuan serupa. Dengan dokumentasi, promosi, serta pelestarian yang baik, kesenian ini berpotensi menjadi ikon budaya Indonesia di mata internasional.
Kesimpulan
Sisingaan adalah kesenian rakyat khas Bandung dan Jawa Barat yang sarat makna. Berakar dari sejarah perlawanan rakyat terhadap penjajah, kesenian ini tumbuh menjadi pertunjukan meriah yang melambangkan keberanian, kebersamaan, dan kebanggaan budaya Sunda. Simbol singa, anak yang diarak, para penggotong, dan musik pengiringnya membentuk satu kesatuan filosofis yang menggambarkan nilai-nilai hidup masyarakat.
Di era modern, Sisingaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi ikon budaya yang ditampilkan di berbagai festival dan acara penting. Pelibatan generasi muda dalam pelestarian tradisi ini menjadi bukti bahwa Sisingaan masih relevan, bahkan di tengah arus globalisasi.
Pada akhirnya, Sisingaan bukan hanya warisan seni pertunjukan, tetapi juga cermin dari semangat masyarakat Sunda: berani, bersatu, dan penuh makna. Dari Subang hingga Bandung, dari desa hingga kota, Sisingaan tetap hidup sebagai simbol kebudayaan yang membanggakan Indonesia di mata dunia.