Peuyeum, Camilan Tradisional Manis Asal Bandung – Peuyeum merupakan salah satu camilan tradisional khas Bandung, Jawa Barat, yang sudah dikenal sejak lama. Camilan ini memiliki rasa manis yang khas dan tekstur lembut yang unik. Tidak hanya digemari karena rasanya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang sederhana namun memerlukan ketelitian. Peuyeum biasanya terbuat dari singkong yang difermentasi, menghasilkan cita rasa manis alami yang menyenangkan. Bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya, camilan ini bukan hanya makanan ringan, tetapi juga bagian dari budaya dan identitas kuliner lokal.
Asal-usul Peuyeum sendiri dapat ditelusuri dari tradisi masyarakat Sunda dalam memanfaatkan hasil pertanian lokal. Singkong, yang menjadi bahan utama, mudah ditemukan di tanah Sunda dan menjadi sumber karbohidrat penting. Fermentasi singkong untuk dijadikan peuyeum adalah cara masyarakat tradisional memaksimalkan bahan pangan agar lebih tahan lama, sekaligus menghasilkan rasa yang khas. Dalam proses fermentasi ini, gula alami dalam singkong berubah menjadi gula sederhana yang membuat peuyeum terasa manis dan aromanya khas.
Selain rasanya yang nikmat, peuyeum juga memiliki nilai gizi yang cukup baik. Kandungan karbohidratnya tinggi karena berasal dari singkong, sementara proses fermentasi meningkatkan kandungan probiotik yang bermanfaat bagi pencernaan. Hal ini menjadikan peuyeum tidak hanya sebagai camilan lezat, tetapi juga pilihan makanan yang relatif sehat dibandingkan dengan jajanan instan modern. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa fermentasi singkong dapat membantu menurunkan kadar pati resisten dan membuat energi dari camilan ini lebih mudah diserap tubuh.
Proses Pembuatan Peuyeum
Pembuatan peuyeum memang terlihat sederhana, tetapi memerlukan keterampilan dan ketelitian agar hasilnya berkualitas. Proses dimulai dengan pemilihan singkong yang berkualitas baik. Singkong yang digunakan biasanya berukuran sedang hingga besar, bersih, dan bebas dari cacat atau busuk. Singkong kemudian dikupas dan dicuci bersih sebelum direbus atau dikukus. Pemasakan ini bertujuan untuk melunakkan singkong sehingga proses fermentasi berjalan lebih baik.
Setelah direbus, singkong dibiarkan hingga suhu ruang dan kemudian diberi ragi atau starter alami untuk fermentasi. Proses fermentasi ini biasanya berlangsung selama 2–3 hari, tergantung kondisi suhu dan kelembapan lingkungan. Selama fermentasi, gula dalam singkong diubah menjadi gula sederhana dan senyawa aromatik yang menghasilkan rasa manis dan aroma khas peuyeum. Keahlian pembuat peuyeum terlihat dari kemampuan mereka menentukan waktu fermentasi yang tepat; terlalu lama dapat membuat peuyeum terlalu asam atau lembek, sementara terlalu singkat membuat camilan kurang manis dan keras.
Selain itu, penyimpanan setelah fermentasi juga penting. Peuyeum yang sudah jadi biasanya dibungkus menggunakan daun pisang atau plastik dan disimpan di tempat sejuk. Cara penyimpanan yang baik menjaga tekstur peuyeum tetap lembut dan aromanya tetap wangi. Sebagian masyarakat Bandung bahkan masih mempertahankan cara tradisional dengan membungkus peuyeum menggunakan daun pisang karena aroma alami daun pisang menambah cita rasa pada camilan ini.
Peran Peuyeum dalam Budaya dan Ekonomi Lokal
Peuyeum bukan hanya camilan, tetapi juga bagian dari budaya masyarakat Bandung. Dalam berbagai acara adat, peuyeum sering dijadikan oleh-oleh atau hidangan pendamping. Misalnya, pada perayaan keluarga atau pertemuan sosial, peuyeum sering hadir sebagai simbol keramahan dan tradisi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa makanan tradisional bisa menjadi media pelestarian budaya, sekaligus mempererat hubungan sosial di masyarakat.
Selain itu, peuyeum juga memiliki peran penting dalam ekonomi lokal. Banyak keluarga di Bandung dan sekitarnya yang menggantungkan pendapatan dari produksi dan penjualan peuyeum. Produk ini dijual di pasar tradisional maupun modern, bahkan diekspor ke beberapa daerah di Indonesia. Popularitas peuyeum sebagai oleh-oleh khas Bandung membuat permintaannya stabil, terutama selama musim liburan dan perayaan tertentu. Dengan demikian, camilan tradisional ini tidak hanya mempertahankan nilai budaya, tetapi juga membantu keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.
Tak kalah penting, peuyeum juga menjadi daya tarik bagi wisata kuliner. Wisatawan yang berkunjung ke Bandung sering mencari peuyeum sebagai cinderamata. Bahkan beberapa toko modern menjual peuyeum dalam kemasan menarik dan higienis untuk memenuhi permintaan wisatawan urban. Tren ini menunjukkan bahwa makanan tradisional bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Peuyeum kini hadir dalam berbagai varian rasa, termasuk peuyeum yang dikombinasikan dengan cokelat atau kacang, sehingga menarik minat generasi muda.
Kesimpulan
Peuyeum merupakan camilan tradisional yang memiliki banyak nilai, mulai dari rasa manis yang khas, tekstur lembut, hingga kandungan gizi yang bermanfaat. Proses pembuatannya yang sederhana namun memerlukan ketelitian menjadikannya karya kuliner yang unik. Lebih dari sekadar makanan, peuyeum adalah bagian dari budaya Sunda yang terus dilestarikan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Bandung. Keberadaan peuyeum dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai oleh-oleh menunjukkan betapa pentingnya peran kuliner tradisional dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus mengikuti perkembangan zaman. Bagi pecinta kuliner, mencicipi peuyeum bukan hanya pengalaman menikmati camilan manis, tetapi juga menyelami tradisi dan kreativitas masyarakat Bandung yang diwariskan dari generasi ke generasi.